Kamis, 23 April 2015

sport

Liga Champions

Barca Siap Hadapi Tim Mana pun di Semifinal

Meylan Fredy Ismawan - detikSport
Kamis, 23/04/2015 18:49 WIB
Barca Siap Hadapi Tim Mana pun di Semifinal REUTERS/Benoit Tessier
Barcelona - Andres Iniesta menyebut tak ada tim tertentu yang ingin dihindari oleh Barcelona di semifinal Liga Champions. Tim mana pun yang mereka hadapi, Barca siap mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Barca kini sedang menunggu pengundian babak semifinal yang akan dilakukan di Nyon, Swiss, Jumat (24/4/2015) besok. Tiga tim yang mungkin menjadi lawan mereka adalah Bayern Munich, Real Madrid, dan Juventus.

"Tak ada alasan bagi kami ingin menghindari siapapun di semifinal karena kami harus menampilkan performa terbaik terlepas dari tim mana yang kami hadapi," tutur Iniesta dalam wawancaranya dengan Marca.

"Jika kami bisa melakukan itu, maka peluang untuk lolos ke final akan berada di tangan kami. Jadi, itu tergantung pada apa yang kami lakukan," katanya.

Selain masih bertahan di Liga Champions, Barca juga masih punya kans juara di dua kompetisi lainnya. Blaugrana saat ini memuncaki klasemen La Liga dan lolos ke final Copa del Rey. Mereka pun bisa saja mengakhiri musim dengan meraih treble.

"Pembicaraan soal treble tidak mengganggu kami karena bagus bagi orang-orang untuk antusias dengan timnya dan bagi kami untuk berada di posisi yang bisa kami capai," ujar Iniesta.

"Kami harus melewatinya selangkah demi selangkah agar lebih dekat dengan trofi-trofi itu," katanya.

(mfi/roz)http://sport.detik.com/sepakbola/read/2015/04/23/184947/2896631/1033/barca-siap-hadapi-tim-mana-pun-di-semifinal?b99220270
SUMBER ; 

KEMENAG BAHAS HARI SANTRI

Kemenag bahas wacana Hari Santri

| 2.552 Views
Kemenag bahas wacana Hari Santri
Sejumlah santri yang tergabung dalam Barisan Santri Nusantara melakukan aksi demonstrasi di Alun-Alun Kudus, Jateng, Kamis (3/7). Dalam aksi demontrasi yang diikuti oleh ratusan santri itu mereka mendukung usulan hari santri nasional (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Bogor  (ANTARA News) - Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren melakukan pembahasan inisiatif penetapan Hari Santri. Inisiatif  yang sempat muncul pada pertengahan tahun 2014 ini dimatangkan kembali melalui focus group discussion (FGD) yang diikuti oleh para pengasuh dan pimpinan pondok pesantren.

“Inisiasi untuk melaksanakan FGD ini sangat strategis mengingat peran fundamental yang dimainkan pesantren dalam mencerdaskan bangsa, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka,” kata Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin saat memberikan sambutan sekaligus membuka Focus Group Discussion Pendidik dan Kependidikan Keagamaan dengan tema “Hari Santri (dalam) Perspektif Lembaga Keagamaan”, Bogor, Rabu (22/04) malam.

Hadir dalam kesempatan ini, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen, Kasubdit Pendidikan Pesantren Ainur Rofik, Kasubdit Pendidikan Diniyah Ahmad Zayadi, dan pimpinan pondok pesantren, sebut laman kemenag.go.id, yang dikutip, Kamis.

Menurut Kamaruddin Amin, upaya untuk menjadikan Hari Santri sebagai hari nasional merupakan sebuah upaya untuk meneguhkan bahwa kontribusi santri dan pesantren selama ini di Indonesia memang layak mendapatkan apresiasi monumental dari bangsa. Terlebih, lanjut Kamaruddin, Indonesia bisa seperti sekarang ini, eksis dan damai, tidak terlepas dari  kontribusi fundamental pesantren.

Sebelumnya, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen dalam laporannya menyampaikan bahwa inisiasi Hari Santri merupakan langkah strategi suntuk mendukung kebijakan penguatan kesetaraan, baik pesantren maupun madrasah diniyah yang sedang digalakkan. Kebijakan kesetaraan itu meliputi kesetaraan regulasi, program, dan kesetraan anggaran.

Menurut Mohsen, terkait inisiasi Hari Santri ini, setidaknya ada tiga hal pokok yang perlu dirumuskan: pertama, perlunya rasionalisasi dan sejumlah alasan, baik menyangkut aspek historis, sosio politik, maupun sosial keagamaan yang meyakinkan bahwa Hari Santri itu penting.

Kedua, waktu yang paling tepat untuk ditentukan sebagai hari santri, tanggal dan bulan apa? “Apakah ide ini masih relevan atau tidak, ini yang akan kita bahas bersama,” jelas Mohsen.

Ketiga, mengenai penamaan Hari Santri. Apakah Hari Santri saja atau Hari Santri Nusantara, atau apa saja sesuai dengan alasan yang berkembang.

FGD ini diikuti oleh 90 orang terdiri dari beberapa unsur dari  Pimpinan Lembaga Keagamaan dan Pesantren, Ormas, dan akademisi. FGD ini juga akan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain: Dirjen Pendidikan Islam, Ketum PBNU, Ketum PP Muhammadiyah, MUI, serta Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Kementerian Setneg RI.
 
SUMBER :http://www.antaranews.com/berita/492459/kemenag-bahas-wacana-hari-santri

Kamis, 15 Januari 2015

Uang: Tujuan Hidup atau Kebutuhan Hidup?

Menarik jika melihat orang yang tidak pernah sekolah tapi dia paham dengan nominal uang. Ternyata walaupun tidak bersekolah banyak yang mengetahui tentang uang. Ini membuktikan duit membuat orang pintar, minimal pintar tentang uang. Orang tidak sekolah juga pintar mencari uang. Sampai ada yang bilang “untuk apa sekolah, menghabiskan uang saja”, ada juga yang bilang “untuk apa sekolah, tidak bikin kaya”. Memang ada yang bilang tidak ada kaitannya antara kaya uang dengan sekolah, karena banyak juga orang tidak bersekolah tapi kaya uang. Tapi banyak juga orang putus sekolah karena uang.
Dalam kehidupan sosial uang menjadi hal yang sangat penting, bahkan tanpa uang kehidupan seseorang akan terasa sulit. Sebaliknya dengan adanya uang kehidupan seseorang akan terasa mudah. Semua aspek kehidupan manusia tergantung dengan uang. Tanpa adanya uang semua aspek kehidupan bisa mengalami kemacetan. Bahkan dalam aspek ibadah pun memerlukan uang, misal untuk membangun tempat-tempat ibadah, masjid, gereja, wihara, pura, kelenteng dan yang lain-lain, semua membutuhkan uang untuk membeli material yang diperlukan dalam pembangunan. Untuk memelihara kebersihan, keindahan dan kenyamannya pun tergantung dengan uang.
Tidak hanya aspek pendidikan dan ibadah saja yang membutuhkan uang. Aspek politik juga membutuhkan uang. Dalam aspek politik, misalnya seseorang akan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD, pada Pemilu 2014 diperkirakan membutuhkan biaya berkisar Rp200 juta - Rp300 juta, bahkan bisa lebih. Untuk dana sosialisasi langsung, baliho, spanduk, stiker, kaos, kalau harus dengan money politic tentunya akan lebih banyak memakan uang untuk dana pemenangan pemilu. Biaya untuk mencalonkan diri menjadi pejabat sangatlah mahal, tidak sedikit yang tidak sabar mengembalikan modal, mereka mengambil jalan pintas dengan korupsi.
Tidak dapat dipungkiri semua orang butuh dengan uang. Sampai Alam bernyanyi tentang duit,
Waduh kemana duit ya
Aku kangen nih
Duit duit kesini dong aku mau duit
Duit kesini dong kekasihku minta duit
Ema dan bapakku lagi perlu duit
Tetanggaku semua lagi butuh duit
Bagi duit
Bagi duit
Jangan Pelit
Bagi duit
Duit…….
Duit duit yang namanya duit yo..
Duit duit duit semua butuh duit
Dicari cari setiap hari
Ditunggu tunggu setiap minggu
Bahkan dinantikan setiap bulan gajihan
Duit duit aku perlu duit
Duit duit semua orang butuh duit
Duit dompet berduit
Sudah pasti yang cantik cantik pada melirik
Duit dompet berduit
Sudah pasti yang cantik cantik pada melirik
Di jakarta mencari duit
Di kampung juga cari duit
duit duit aku perlu duit
Duit duit semua butuh duit
Dari lirik lagu di atas dapat dilihat kalau semua orang butuh uang, kehadiran uang sangat dirindukan. Dimana-mana orang mencari uang, di kota maupun di desa. Jadi, bisa juga disebut uang sebagai kebutuhan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Tinggal manusianya saja, merasa cukup atau tidak. Bersyukur atau tidak. Kalau masih belum bersyukur, berapapun banyaknya uang maka akan selalu merasa kurang terus. Bisa jadi karena merasa banyak uang pengeluaran juga banyak, semuanya pengin dibeli, semuanya pengin dimiliki. Akhirnya selalu merasa kekurangan uang, dan bisa mengurangi kebahagiaan, walaupun seberapapun banyaknya uang yang dimiliki. Tapi jika selalu bersyukur maka akan merasa cukup atau pas, dan suatu saat Insyaallah Allah akan menambahkan nikmat-Nya.
Selain sebagai kebutuhan hidup untuk memenuh segala yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, juga ada orang yang menjadikan uang sebagai kebutuhan hidup. Dalam bukunya yang berjudul Islam:Keseimbangan Rasionalitas, Moralitas dan Spiritualitas (2005:115), Musa Asy’arie menulis jika uang sebagai tujuan, maka orang di dunia ini akan saling mengejar dan memperebutkan uang sebanyak-banyaknya dengan cara apapun, saling menjatuhkan bahkan melalui cara-cara yang tidak dibenarkan oleh moral dan hukum, seperti merampok, mencuri, korupsi dan membunuh hanya untuk mendapatkan uang, karena uang telah menjadi tujuan hidupnya.
Sampai seolah-olah menjadikan uang sebagai Tuhan dan dipertaruhkan oleh semua orang. Tidak pandang bulu tua maupun muda, pejabat maupun rakyat jelata, dari suku dan agama yang manapun semuanya butuh uang. Kalau sudah sampai mempertuhankan uang, maka segala cara akan digunakan untuk mendapatkannya. Halal haram pokoknya hantam saja. Bahkan ada yang sampai “memperjualbelikan” agama, pindah agama karena kemiskinan, memperjualbelikan ayat-ayat, mencari sumbangan atas nama agama untuk membangun tempat ibadah, padahal tidak dipakai untuk membangun tempat ibadah malah masuk kantong sendiri.
Jika uang sudah dipertuhankan ataupun telah menjadi motif suatu agama, maka terjadilah proses pendangkalan agama. Agama sama sekali tidak lagi berdaya sebagai kekuatan moralitas, untuk mencagah kemungkaran dan mendorong kesalihan (Musa Asy’arie, 2005:115).
Dalam berbangsa dan bernegara, orang yang menjadikan uang sebagai tujuan atau bahkan mempertuhankan uang. Maka mereka akan rela menjual bangsanya sendiri dengan harga murah. Mereka tega mengusir bahkan menjual rakyatnya sendiri. Mereka rela menjadi antek asing yang terus akan menjajah bangsanya. Korupsi, suap-menyuap dan aksi tipu-tipu pun dilancarkan. Pokoknya apapun itu yang bisa jadi uang dilakukannya, asal perut kenyang, masa bodoh dangan rakyat yang sengsara berkepanjangan.
Jika uang sudah menjadi ukuran segala-galanya, maka akan merusak tatanan kemanusiaan. Uang yang awalnya diciptakan oleh manusia, tapi manusia tersebut malah terjebak dan terjerat oleh ciptaannya sendiri. Sehingga tidak ada yang mampu keluar dari jeratan tersebut, karena manusia membutuhkan uang, bahkan memujanya, menjadikan uang sebagai tujuan hidupnya, bahkan mempertuhankannya. Akhirnya manusia hanya dihargai seharga uangnya.
Sekarang tergantung kita masing-masing, bagaimana kita memandang uang? Sebagai kebutuhan atau sebagai tujuan hidup?

Sumber :  http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/24/uang-tujuan-hidup-atau-kebutuhan-hidup-568037.html

my biodata

Nama   :  MUHAMMAD IRKHAM WALID
TTL      : Kebumen, 27 Juli 1999
Alamat  : Pasir, Rt.01 Rw 03 Kecamatan Ayah
               Kabupaten Kebumen 54473 Jateng
Hobi     : Sepak bola , volli , badminton
Email    : walidpasir@gmail.com
Status   : Pelajar

  PENDIDIKAN FORMAL

2014 - 2017   :   SMK MAARIF 2 GOMBONG
2011 - 2014   :   SMP N 2 AYAH
2005 - 2011   :   SD N PASIR